Jakarta, CNBC Indonesia – PT Sepatu Bata Tbk. (BATA) mengungkapkan kondisi operasional bisnis yang menyebabkan perusahaan menderita kerugian sepanjang empat tahun terakhir.

Manajemen menyebut, kinerja operasional Grup dipengaruhi oleh melemahnya permintaan pasar dalam negeri pasca-pandemi Covid-19 dan ketatnya persaingan di pasar alas kaki.

Seperti yang ditunjukkan dalam laporan keuangan konsolidasian, Grup menderita rugi tahun berjalan sebesar Rp6,5 miliar periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2024 yang berdampak pada nilai liabilitas jangka pendek yang melebihi aset lancarnya sebesar Rp50,3 miliar pada tanggal tersebut.

“Kemampuan Grup untuk melanjutkan kelangsungan usahanya bergantung pada kemampuannya untuk mengelola modal kerja yang tersedia untuk dapat memenuhi kewajiban yang jatuh tempo secara tepat waktu, untuk memperoleh pembiayaan tambahan yang mungkin diperlukan, dan untuk dapat mencapai operasi yang sukses untuk membuat keuntungan pada Grup,” mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (30/5).

Dengan demikian, manajemen berencana untuk meremajakan toko agar lebih menarik dan meningkatkan lalu lintas pelanggan di semua gerai, memperkuat harga jual rata-rata melalui koleksi produk eksklusif dengan margin lebih tinggi, serta melakukan restrusturisasi agar efisien dalam mengelola biaya operasional.

“Manajemen berkeyakinan bahwa Grup akan dapat memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo,” sebutnya

Selain itu, manajemen menyampaikan Bata Brands S.a.r.l, menegaskan niatnya untuk tidak menuntut pembayaran kembali atas jumlah yang terutang kepada mereka, termasuk beban imbalan lisensi merek yang harus dibayarkan, kecuali sejauh dana perusahaan mengizinkan pembayaran kembali dan pembayaran tersebut tidak akan mempengaruhi kemampuan Perusahaan untuk memenuhi kewajibannya kepada pihak ketiga saat dan ketika jatuh tempo.

Oleh karena itu, manajemen berkeyakinan bahwa tidak terdapat suatu ketidakpastian material pada tanggal 31 Maret 2024 yang dapat mengakibatkan keraguan signifikan atas kemampuan Grup dalam mempertahankan kelangsungan usahanya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya Bata menutup operasional pabrik di Purwakarta, Jawa Barat, buntut dari merosotnya permintaan atas produk yang diproduksi di pabrikt tersebut.

Sementara, kapasitas produksi jauh melebihi kebutuhan. Selanjutnya kebutuhan produksi tersebut rencananya dapat diperoleh secara lebih berkelanjutan dari pemasok di Indonesia.

Perusahaan telah menyelesaikan proses pemutusan kontrak kerja, dan membayar pesangon pemutusan kontrak kerja kepada karyawan yang terkena dampaknya sebesar Rp16,7 miliar sampai dengan tanggal 15 Mei 2024, dan dampak tersebut akan dicatat pada laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain konsolidasian untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2024.

“Selain dari pemutusan kontrak kerja karyawan, manajemen saat ini sedang menilai total dampak dari peristiwa tersebut untuk menentukan dampaknya terhadap pelaporan keuangan Grup,” pungkasnya.

Mengutip laporan keuangan BATA, rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga Maret 2024 turun menjadi sebesar Rp 13,8 miliar dibandingkan periode yang sama rugi Rp 26,9 miliar.

Kerugian tersebut karena penjualan bersih BATA hingga kuartal I tahun 2023 tercatat turun menjadi sebesar Rp 113,4 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 136,08 miliar.

Beban pokok penjualan pun turun tipis menjadi Rp 80,3 miliar secara tahunan dari sebelumnya yang sebesar Rp 80,5 miliar. Adapun aset BATA pada Maret 2024 naik menjadi Rp 665,9 miliar dibandingkan Desember 2023 yang sebesar Rp 585,7 miliar.

[Gambas:Video CNBC]

(mkh/mkh)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *