Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bersamaan dengan imbal hasil US Treasury Tenor 10 tahun terbang tinggi dalam dua hari terakhir.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,34% di angka Rp16.210/US$ pada hari ini, Kamis (30/5/2024). Pelemahan rupiah ini senada dengan depresiasi sejak 27 Mei 2024.

Sementara indeks dolar AS (DXY) pada pukul 08:54 WIB naik ke angka 105,11 atau menguat 0,48%. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan penutupan kemarin yang stagnan 0%.

Ambruknya rupiah di awal perdagangan hari ini terjadi setelah melonjaknya imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun 1,81% ke angka 4,624% pada penutupan perdagangan kemarin.

Kenaikan yield Treasury ini terjadi karena investor mempertimbangkan keadaan perekonomian Negeri Paman Sam dan mencerna lelang obligasi lima tahun yang buruk.

Yield Treasury kembali naik setelah lelang obligasi 5 tahun oleh Departemen Keuangan AS senilai US$ 70 miliar menunjukkan permintaan yang rendah. Rasio bid-to-cover, yang merupakan ukuran permintaan yang diawasi dengan ketat, berada pada angka 2,3, di bawah rata-rata 10 lelang sebesar 2,45.

Investor juga mempertimbangkan bagaimana keadaan perekonomian dan menunggu data ekonomi baru yang dirilis sepanjang pekan ini yang dapat menjadi masukan bagi pengambilan kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Tidak sampai disitu, konsumsi masyarakat AS juga diperkirakan masih cukup kuat.

Mengutip hasil Conference Board, indeks kepercayaan konsumen AS naik pada Mei menjadi 102 dari 97,5 pada bulan sebelumnya dan di atas ekspektasi pasar yakni 95,9. Hal ini pada akhirnya memberikan angin segar bagi DXY untuk mengalami penguatan.

Hal ini yang semakin menekan rupiah akibat kuatnya perekonomian AS.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Breaking! Kabar Buruk dari AS Bikin Rupiah Melorot 0,6%


(rev/rev)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *