Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) merespon tren kebijakan suku bunga yang tinggi termasuk suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Direktur Utama BBRI Sunarso menyebut bahwa langkah tersebut merupakan hal yang logis.

“Menurut saya sekali lagi saya tegaskan bahwa ini adalah keputusan yang logis. Untuk merespon tantangan bagaimana Bank Sentral harus mampu mengendalikan inflasi dan kemudian juga memanage nilai tukar,” ujarnya dalam acara CNBC Indonesia, Kamis (30/5).

Sunarso menjelaskan, imbas dari kenaikan suku bunga berdampak terhadap pertumbuhan likuditas.

“Dampak itu harus kita pikul rame-rame di pasar. Itu saja sebenarnya. Yang paling penting bagaimana cara meresponnya. Karena ini kan pilihan,” ungkapnya.

Sunarso menyebut, upaya pemangku kebijakan tentunya memiliki peluang dan risiko tersendiri.

“Mau memilih inflasi rendah, mengorbankan pertumbuhan, atau memilih pertumbuhan tinggi tapi mungkin menimbulkan inflasi atau inflasinya tidak manageable,” sebutnya.

Namun, Sunarso menilai, yang terpenting adalah inflasi terkendali tanpa mengorbankannya pertumbuhan. Karena ada angkatan kerja baru yang menunggu pertumbuhan ekonomi yang bergairah.

Sunarso menambahkan, respon terpenting yang akan berpengaruh yaitu perebutan likuiditas di pasar. Sehingga, sebagai perbankan pihaknya harus optimal dalam menggunakan likuiditas untuk tetap bisa tumbuh.

“Maka kemudian itu yang saya katakan just right likuiditas itu menjadi pendekatan kita. Menjadi penting bagi kita. Jadi berapapun likuiditas yang kita terima dengan biaya yang pasti naik maka kita harus bisa tempatkan secara benar, secara optimal sehingga tetap akan produktif,” jelasnya.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Naik Jadi 6.350, Saham BBRI Cetak Rekor Baru


(fsd/fsd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *