Bogor, CNBC Indonesia – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menjelaskan bahwa nilai transaksi bursa karbon di Indonesia terbilang masih rendah. Hingga April 2024, nilai transaksi bursa karbon baru mencapai Rp 35,30 miliar.

Adapun transaksi bursa karbon tersebut berasal dari 57 partisipan dengan frekuensi transaksi sebanyak 60.

Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, Bobby Wahyu Hernawan mengungkapkan, rendahnya transaksi bursa karbon di Indonesia disebabkan oleh kurangnya pemahaman dari para pihak terkait nilai ekonomi karbon. Padahal, karbon pada dasarnya dapat dimonetisasi dan juga diperdagangkan.

“Pertanyaannya adalah kembali kepada supply dan demand bagaimana para pihak itu aware tentang bahwa ada nilai ekonomi karbon yang bisa dapat di monetisasi, bisa diperdagangkan,” ujar di Bogor, Rabu (29/5/2024).

Lantas, upaya peningkatan transaksi bursa karbon menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan para stakeholder terkait, termasuk pihak partisipan. Sebab, keberadaan bursa karbon cukup penting untuk membantu pengurangan emisi karbon dioksida (CO2) seiring perubahan iklim global.

Indonesia pun memiliki potensi yang besar untuk menjadi penyuplai pengurangan karbon mengingat besarnya luas hutan lindung di dalam negeri. 

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Sri Mulyani Lapor Kasus Dugaan Korupsi LPEI, OJK Respons Begini


(bul/bul)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *