Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) disaat ketidakpastian global masih cukup mendominasi dan memberikan ketakutan tersendiri bagi pelaku pasar.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup terdepresiasi 0,16% di angka Rp16.085/US$ pada hari ini, Selasa (28/5/2024). Pelemahan rupiah ini senada dengan penurunan kemarin (27/5/2024) yang terjadi sebesar 0,44%.

Sementara DXY pada pukul 14:47 WIB turun ke angka 104,45 atau melemah 0,14%. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan penutupan kemarin yang berada di angka 104,59.



Buruknya performa rupiah belakangan ini terjadi di tengah sikap hawkish bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Dalam risalah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) minutes bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang dirilis pada pekan lalu, menunjukkan kekhawatiran dari para pengambil kebijakan tentang kapan saatnya untuk melakukan pelonggaran kebijakan.

Pertemuan tersebut menyusul serangkaian data yang menunjukkan inflasi masih lebih tinggi dari perkiraan para pejabat The Fed sejak awal tahun ini. Sejauh ini, The Fed masih menargetkan inflasi melandai 2%.

Hal ini tercermin dari survei CME FedWatch Tool yang menunjukkan probabilitas pemangkasan suku bunga kembali mengecil dari dua kali yang diperkirakan pada September dan Desember 2024, menjadi hanya terjadi pada November 2024 sebesar 25 basis poin (bps).

Situasi ini akan berimplikasi pada kuatnya dolar AS pada beberapa waktu ke depan yang berujung pada tekanan terhadap rupiah.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Pasar Semakin Ragu dengan The Fed, Rupiah Kembali Loyo


(rev/rev)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *