Jakarta, CNBC Indonesia – Bicara tiket pesawat murah, maskapai yang langsung menjadi top of mind kebanyakan konsumen adalah Lion Air. Siapa sangka, pemilik Lion Air ternyata pernah menjalani profesi sebagai calo tiket sebelum berkecimpung di bisnis penerbangan. Seperti apa kisahnya?

Adalah Rusdi Kirana, seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila, yang menjalani pekerjaan sampingan sebagai calo tiket di Bandara Soekarno-Hatta. Pada waktu itu, tepatnya akhir 1999-an, Rudi menyadari bahwa hanya orang kaya berduit yang berseliweran di bandara dan bepergian naik pesawat. 

Berawal dari pengamatannya tersebut, Rusdi Kirana bertekad ingin buat maskapai penerbangan yang murah agar bisa menjangkau lebih banyak orang.

Sambil menyelesaikan kuliah, dia mulai belajar seluk beluk penerbangan. Hingga akhirnya, pada tahun 1990-an, Rusdi yang dibantu saudaranya, Kusnan Kirana, mendirikan biro perjalanan bernama “Lion Tour”. Penamaan “Lion” disebabkan karena keduanya berzodiak Leo.




Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)Foto: Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Mengutip majalah Warta Ekonomi (2006), bisnis ini dijalaninya selama 13 tahun sebelum akhirnya makin berkembang di tahun 1999. Pada tahun tersebut dan seiring diperbolehkannya pendirian maskapai swasta baru di Indonesia, duo Kirana mendirikan “Lion Air”.

Dalam paparan majalah Gatra (13/11/2004), bermodalkan dua pesawat sewaan izin maskapai akhirnya keluar pada 1999. Namun, mengutip situs resmi Lion Air, maskapai baru bisa beroperasi pada tanggal 30 Juni 2000.

Rute pertama Lion Air adalah Jakarta-Pontianak dengan harga Rp 300 ribu. Harga tersebut jatuh di bawah harga kompetitor yang mematok tarif seharga Rp 1,1 juta. Lalu, tak lama berselang dibuka juga rute Jakarta-Manado yang biasanya seharga Rp 2,1 juta dibuat menjadi Rp 400 ribu.

Awalnya banyak yang menduga bisnisnya bakal bangkrut, tetapi kenyatannya tidak. Malah, Lion Air makin moncer karena jadi alternatif masyarakat untuk bisa terbang.

Pada 2004 Lion Air sudah mengoperasikan 23 pesawat terbang. Tiap harinya Lion Air melayani dengan 130 penerbangan di Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Jumlah pesawat pun kemudian juga terus bertambah lagi.

Sebelum pandemi, pesawat-pesawat Lion Air mendominasi terminal 1 di Bandara Soekarno-Hatta. Sebab, Lion Air juga membawahi beberapa maskapai seperti Wings Air, Batik Air, Lion Bizjet, Malindo Air (Malaysia), dan Thai Lion Air (Thailand).

Kesuksesan inilah membuat Lion Air menyebut dirinya sebagai maskapai penerbangan berbiaya rendah. Jargonnya “We Make People Fly.” Bahkan, pada 2018 tercatat maskapai ini sudah mengangkut 36,8 juta penumpang. Atau secara persentase menjadi pilihan 35% penumpang yang ingin berpergian dari pulau ke pulau, dari kota ke kota.

Kini, Lion Air punya bisnis maskapai baru, yakni Super Air Jet. Menariknya, maskapai baru ini berdiri di saat pandemi menghantam dan maskapai lain banyak yang mandeg.

Super Air Jet terbang perdana pada 6 Agustus 2021, dengan rute Jakarta – Kualanamu, Medan dan Jakarta – Batam. Dikutip dari situs resminya, Super Air Jet menawarkan konsep low cost carrier dengan penerbangan antarkota langsung point-to-point di pasar domestik dan perusahaan berharap nantinya dapat melebarkan sayap ke rute internasional.

Pada 2017, Rusdi sendiri sempat berada di urutan ke-33 dari 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes. Kekayaan mereka kala itu mencapai US$ 970 juta. Namun, pada 2022, posisi Rusdi menjadi urutan ke-38 dengan kekayaan US$ 835 juta.

Sayangnya, meski menjadi perintis penerbangan murah, reputasi Lion Air dalam hal ketepatan waktu penerbangan tidak begitu bagus. 

[Gambas:Video CNBC]

(hsy/hsy)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *