Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah bergerak stagnan setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan kebijakan suku bunga acuannya untuk tetap bertahan di level 6,25%. Selain itu pasar juga akan menanti rapat FOMC Minutes nanti malam waktu AS.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup tak berubah dari perdagangan sebelumnya di angka Rp15.990/US$ pada hari ini, Rabu (22/5/2024). Pergerakan stagnan ini setelah tiga hari pelemahan beruntun.

Sementara indeks dolar AS atau DXY pada pukul 15.00 WIB turun ke angka 104,53 atau melemah tipis 0,02%.


Bank Indonesia memutuskan tetap menahan suku bunga acuan menjadi 6,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI 21-22 Mei 2024. Selain itu, BI juga masih menahan suku bunga deposit facility sebesar 5,5 % dan suku bunga lending facility sebesar 7 %.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan keputusan mempertahankan BI rate sejalan dengan fokus kebijakan moneter yang pro-stabilitas untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran.

Selain itu, suku bunga perbankan tetap terjaga dipengaruhi likuiditas perbankan yang memadai sejalan dengan bauran kebijakan BI sejalan dengan kebijakan KLM (Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial) dan dampak kebijakan transparansi SBDK.

Adapun berdasarkan data BI, per Maret 2024, suku bunga kredit menurun, sedangkan bunga simpanan naik. Rata-rata tertimbang suku bunga kredit sebesar 9,25%, turun dibandingkan bulan sebelumnya 9,28%.

Pada periode yang sama bunga deposito tenor 6 bulan, 12 bulan, 24 bulan masing-masing sebesar 5,69%, 5,83%, dan 3,94%. Bulan sebelumnya bunga deposito dengan tenor yang sama sebesar 5,67%, 5,80%, dan 3,81%.

Namun, situasi perekonomian Amerika Serikat (AS) dan perang di Timur Tengah dipantau ketat oleh Bank Indonesia (BI). Kedua hal tersebut berpotensi mengguncang pasar keuangan global.

“Ke depan risiko arah penurunan FFR dan dinamika ketegangan geopolitik tetap perlu dicermati karena dapat kembali dorong kenaikan ketidakpastian pasar keuangan global, tekanan mata uang global, tekanan inflasi dan menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya.

Secara umum kondisi global cukup membaik. Terutama ketegangan geopolitik sudah cukup mereda sejak April 2024.

“Berbagai kondisi berdampak positif pada tertahannya penguatan dolar AS secara global dan turunnya US Treasury yield dibanding kondisi April 2024 meski masih berada pada level yang tinggi,” terang Perry.

“Aliran modal ke negara berkembang kembali terjadi dan mengurangi tekanan ke nilai tukar,” tegasnya.

Perry juga memastikan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap pro-growth untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kebijakan makroprudensial longgar terus ditempuh untuk mendorong kredit/pembiayaan perbankan kepada dunia usaha dan rumah tangga. Dan kebijakan sistem pembayaran diarahkan untuk tetap memperkuat keandalan infrastruktur dan struktur industri sistem pembayaran, serta memperluas akseptasi digitalisasi sistem pembayaran.

Disisi lain, menjelang FOMC minutes, beberapa pejabat The Fed akan menyampaikan pernyataan yang dianggap sebagai petunjuk pasar untuk menebak arah kebijakan moneter bank sentral.

CNBC Indonesia Research

[email protected]

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Rupiah Anjlok 4 Hari Beruntun, Dolar Jadi Rp 15.690


(saw/saw)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *