Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka cenderung bergairah pada perdagangan sesi I Jumat (17/5/2024), di mana investor cenderung masih menimbang dari melambatnya pertumbuhan inflasi di Amerika Serikat (AS).

Pada pembukaan sesi I hari ini, IHSG dibuka menguat 0,15% ke posisi 7.257,83. Selang 16 menit setelah dibuka, penguatan IHSG semakin kencang yakni menjadi 0,3% ke 7.268,47.

Jika penguatan semakin kencang, bukan hal mustahil IHSG dapat menembus kembali level psikologis 7.300. Namun biasanya, pada akhir pekan investor cenderung melakukan aksi profit taking.

Nilai transaksi indeks pada awal sesi I hari ini sudah mencapai sekitar Rp 1,6 triliun dengan volume transaksi mencapai 2,4 miliar lembar saham dan sudah ditransaksikan sebanyak 150.902 kali.

IHSG kembali cerah di tengah melandainya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) kemarin. Yield Treasury acuan tenor 10 tahun melemah ke 4,36%, dari sebelumnya yang ada di kisaran 4,5%.

Melemahnya yield Treasury terjadi setelah inflasi AS melandai pada April 2024. Melandainya inflasi ini memberi optimisme pasar jika bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan segera memangkas suku bunga.

Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan bahwa Indeks Harga Konsumen (consumer price index/CPI) naik 3,4%(year-on-year/yoy) untuk April, di bawah ekspektasi analis dan menunjukkan tren jelas menuju perlambatan inflasi lebih lanjut.

Investor cenderung menyukai perlambatan karena ini berarti harga masih naik, tetapi pada tingkat yang lebih berkelanjutan. Hal ini juga berdampak pada suku bunga, termasuk biaya pinjaman uang untuk segala sesuatu mulai dari kartu kredit hingga pinjaman mobil dan untuk suku bunga hipotek.

The Fed terus menargetkan tingkat inflasi sebesar 2%. Jika The Fed percaya pertumbuhan harga melambat menuju angka tersebut, mereka mungkin mempertimbangkan untuk menurunkan suku bunga utamanya dari level hampir 5,5% yang telah bertahan selama sekitar satu tahun.

Jika suku bunga turun, ini akan membantu menurunkan pembayaran bulanan yang dihadapi oleh bisnis dan konsumen di seluruh ekonomi.

Jika The Fed menurunkan suku bunga karena inflasi yang melambat, hal ini dapat memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menyesuaikan kebijakan moneternya, mungkin dengan menurunkan suku bunga juga.

Suku bunga yang lebih rendah dapat meningkatkan daya beli dan investasi domestik, mendorong kenaikan IHSG.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Masih Menanjak, IHSG Bisa Tutup Tahun 2023 di 7.300-an?


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *