Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah kembali ditutup menguat pada perdagangan Jumat (3/5/2024) akhir pekan ini, di mana rupiah makin dekati level psikologis Rp 15.900/US$.

Dilansir dariĀ Refinitiv pada pukul 15:00 WIB, rupiah ditutup menguat 0,62% di angka Rp 16.080/US$, memperpanjang penguatan yang sudah terjadi sejak Kamis kemarin. Alhasil, rupiah sudah menguat dua hari beruntun.

Dalam sepekan, rupiah menguat 0,15%. Namun, penguatan rupiah pada pekan ini cenderung terpangkas, di mana pada pekan lalu rupiah berhasil menguat 0,28%.

Penguatan rupiah yang kembali terjadi pada hari ini di tengah melandainya kembali indeks dolar AS (DXY). Per pukul 15:03 WIB, indeks dolar turun tipis 0,04% menjadi 105,253.


Rupiah kembali menguat pasca bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) memutuskan kembali menahan suku bunganya di level 5,25-5,5% pada Kamis (2/5/2024) dini hari waktu Indonesia.

The Fed juga menegaskan tidak akan ada kenaikan suku bunga pada tahun ini. Namun, mereka juga mengatakan belum ada kemajuan berarti dalam penurunan inflasi sehingga akan menunggu lebih banyak data pendukung sebelum memangkas suku bunga acuan.

Ketua The Fed, Jerome Powell mengatakan tidak berencana untuk mengerek suku bunga tahun ini. Pernyataan tersebut menghapus ekspektasi sebagian pelaku pasar yang semula melihat ada peluang kenaikan kembali suku bunga The Fed.

“Saya rasa tidak mungkin kenaikan suku bunga ada dalam kebijakan ke depan. Saya tegaskan tidak mungkin,” ujar Powell.

Optimisme Powell untuk tidak menaikkan suku bunga ini menjadi angin segar bagi pasar keuangan global termasuk mata uang Garuda hingga akhirnya DXY pun melemah sementara rupiah menguat.

Sedangkan dari sisi domestik, pergerakan pasar keuangan domestik dipengaruhi oleh angka inflasi Indonesia yang masih berada di bawah ekspektasi. Namun, angka inflasi masih cenderung stabil dan terkendali.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi April 2024 mencapai 0,25% secara bulanan(month-to-month/mtm). Sementara itu, inflasi tahunannya mencapai 3,0% (year-on-year/yoy) dan secara tahun kalender sebesar 1,19% (ytd). Tingkat inflasi bulanan pada April ini lebih rendah dari bulan sebelumnya dan dari posisi April 2023.

Adapun, konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 10 institusi memperkirakan inflasi April 2024 akan mencapai 0,33% dibandingkan bulan sebelumnya (mtm).

Hasil polling juga memperkirakan inflasi (yoy) akan berada di angka 3,08% pada April. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Maret 2024.

Sebagai catatan, inflasi pada Maret 2024 tercatat 3,05% (yoy) dan 0,52% (mtm) sementara inflasi inti mencapai 1,77% (yoy).

Pelaku pasar juga patut memperhatikan tekanan jual asing yang masih deras terutama setelah keputusan bank sentral AS atau the Fed masih menahan suku bunga di level tinggi.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Rupiah Terpuruk Saat Sidang Gugatan Pilpres, Dolar Nyaris Rp15.900!


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *