Jakarta, CNBC Indonesia – Investor sukses Indonesia Lo Kheng Hong ternyata tak selamanya cuan. Ia pernah hampir bangkrut dan nyaris tidak memiliki uang sepeser pun saat krisis mendera Indonesia pada 1998 silam. Akan tetapi, dia akhirnya bisa terhindar dari ancaman tersebut dan kembali bangkit berkat pekerjaannya sebagai investor saham.

Kisah ini disampaikan Lo Kheng Hong saat berbincang di acara SPOD yang diselenggarakan PT Syailendra Capital dan ditayangkan pada akun YouTube perusahaan. Lo Kheng Hong bercerita, saat krisis 1998 terjadi, dia hanya memiliki uang sisa 15% dari seluruh hartanya.

“Uang saya berkurang 85%, sisa 15%. Saya waktu itu sudah full time investor, istri ibu rumah tangga, anak 2, saya nggak kerja lagi, duit tinggal 15%,” kata Lo Kheng Hong, dikutip Rabu (24/4/2022).

Sadar dirinya akan bangkrut, Lo Kheng Hong akhirnya memutuskan untuk menyimpan seluruh sisa hartanya di saham PT United Tractor Tbk (UNTR). Saat itu, harga saham UNTR per lembar ada di level Rp 250 per saham.

Bukan tanpa alasan pria dengan sapaan akrab LKH ini melakukan hal tersebut. Menurutnya, pemilihan UNTR sebagai lokasi penyimpanan saham tunggal dilakukan karena Lo Kheng Hong menilai perusahaan tersebut memiliki prospek cerah dan valuasinya tinggi.

“Masa harga saham Rp250, laba usaha per saham Rp7.800. Laba usahanya Rp 1,1 triliun, dibagi jumlah saham 138 juta, kan, (laba per saham) Rp7.800. Saya put everything di United Tractor, nggak bisa pilih yang lain. Ini ada mercy dijual harga bajaj, semua masukin. Beli seluruhnya hanya di 1 counter,” ujarnya.

Lo Kheng Hong bercerita, keputusannya saat itu sempat meragukan karena kinerja harga saham UNTR terpantau lambat bergerak positif. Akan tetapi, dia tetap mempertahankan pendiriannya untuk hanya berinvestasi di perusahaan tersebut.

Alhasil, setelah 6 tahun memegang saham UNTR, Lo Kheng Hong menjual seluruh asetnya di sana pada 2004. Harga saham UNTR saat Lo Kheng Hong menjual investasinya sudah ada di angka Rp 15 ribu per saham.

“Saya gemetar kan duit saya kecil, tiba-tiba jadi banyak. Saya pikir kalau nanti dia turun lagi uang saya hilang bagaimana? Saya salah, saya jual. Kira-kira Rp 15 ribu waktu itu (harga sahamnya). Akhirnya dia naik jadi Rp600 ribu sekian. Demikian saya survive di 1998,” katanya.

Lo Kheng Hong adalah investor sukses yang lahir 20 Februari 1959 dan kerap dijuluki Warren Buffet Indonesia. Dia menilai, menjadi seorang investor saham itu bisa membuat kaya karena dengan menjadi investor di perusahaan publik, harga sahamnya selalu meningkat dan menghasilkan laba besar.

Dia konsisten menerapkan prinsip value investing, atau berinvestasi dengan membeli saham dengan harga murah tapi berpotensi tumbuh.

Lo Kheng Hong juga tercatat menjadi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 5% di beberapa emiten seperti PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN), emiten multifinance dari Grup Panin, lalu saham pabrik ban PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) dan saham emiten media Grup MNC PT Global Mediacom Tbk (BMTR).

Kisah lainnya, ternyata dia juga pernah mengalami ‘nyangkut’ di salah satu saham.
Diceritakannya melalui sebuah unggahan video pada 2016, dimana dia pernah berinvestasi di saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan kemudian harganya ambles ke harga Rp 50 alias gocap.

Tak tanggung-tanggung bahkan investor yang dikenal sebagai Warren Buffettnya Indonesia ini memiliki saham BUMI sebanyak 1 miliar saham atau kala itu setara dengan 2,7% di saham tersebut. Diakuinya

“Yang paling buruk itu ketika saya membeli saham BUMI dalam jumlah besar dan sahamnya turun ke Rp 50, untung saya punya kekuatan untuk tidak menjual saham saya di harga Rp 50, bahkan saya membeli lebih banyak. Itu posisi yang paling rendah dalam hidup saya,” kata Lo Kheng Hong dalam video yang diunggah dalam akun instagram @lukas_setiaatmaja, dikutip Senin (26/4/2021).

Bahkan ketika itu sempat tersiar kabar bahwa investor kondang ini sudah jatuh bangkrut ketika harga saham ini tidak kunjung bangkit. Namun dia tetap yakin ketika itu lantaran dia tidak memiliki utang sama sekali, bahkan masih memiliki aset lain di saham PT Petrosea Tbk (PTRO).

Meski kehilangan uang dalam jumlah besar, dia tetap berfokus pada asetnya yang ada saat ini, bukan pada asetnya yang hilang di saham tersebut. Hal ini tetap membuatnya tidak stress, bahkan masih sempat untuk mengisi kelas di Universitas Prasetiya Mulya.

“Tetapi ketika saya berada di titik terendah, saya mendapatkan ilmu yang terhebat. Waktu saya di titik terendah, ilmu saham saya bertambah hebat, sangat hebat sekali. Saya membeli saham lebih berhati-hati, berfikir lebih lama,” terangnya.

Setelah satu setengah tahun memegang saham ini dan merasakan kerugian, akhirnya Lo Kheng Hong berhasil melepas saham ini di harga Rp 500 pada 2017 lalu.

Mungkin hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi para investor saham yang saat ini masih getol untuk terjun ke pasar saham, namun merasa galau karena kondisi pasar yang tak kunjung membaik bahkan cenderung turun dalam beberapa waktu terakhir.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


BEI Buka-bukaan Biang Kerok Investor Saham RI Rendah


(fsd/fsd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *