Jakarta, CNBC Indonesia – Ekonom perbankan tanah air memperingatkan, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate saat ini berpotensi membuat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia akan makin tertahan.

Cita-cita Presiden Joko Widodo saat mencalonkan diri sebagai presiden untuk menjadikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 7% pun berpotensi makin tak tercapai. Bahkan, target pertumbuhan ekonominya di masa akhir pemerintahannya, yakni 2024 sebesar 5,2% juga bisa gagal.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, ini karena kenaikan suku bunga acuan BI itu berpotensi meningkatkan biaya pinjaman atau cost of borrowing pelaku usaha dan masyarakat untuk berbelanja atau ekspansi usaha, sehingga pertumbuhan ekonomi berpotensi stagnan di kisaran 5% saja tahun ini.

“Seandainya BI menaikkan suku bunga acuan maka akan berdampak pada kenaikan cost of borrowing yang selanjutnya akan mempengaruhi ekonomi domestik, baik konsumsi rumah tangga dan investasi. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih akan berkisar 5% pada tahun ini,” kata Josua kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (23/4/2024).

Josua mengakui, potensi kenaikan suku bunga acuan itu memang bisa saja dilakukan BI dalam pengumuman hasil rapat dewan gubernur (RDG) bulan ini, imbas dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini terus bergerak di kisaran Rp 16.200. Namun, ia mengingatkan faktor pelemahan nilai tukar rupiah itu terbilang karena efek musiman dan tekanan eksternal.

“Pelemahan Rupiah saat ini memang benar dikarenakan faktor eksternal yakni naiknya risiko ‘higher-for-longer’ sehingga memicu terjadinya sentimen risk-off. Namun ada juga faktor internal dimana permintaan valuta asing cenderung naik secara musiman setiap kuartal kedua untuk melakukan pembayaran pokok utang, deviden, dan kupon ke non-resident,” kata Josua.

Oleh sebab itu, untuk menanggulangi tekanan itu, instrumen moneter intervensi pada pasar valuta asing merupakan salah satu cara yang cukup efektif dalam upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah, ketimbang harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi karena kenaikan BI Rate, apalagi tekanan inflasi di dalam negeri juga masih rendah dan masih di kisaran target 2,5% plus minus 1%.

Jika BI Rate dinaikkan, Josua mengatakan dampak positifnya adalah tekanan dari faktor eksternal tersebut dapat mereda karena terjadi pelebaran positive spread dengan imbal hasil instrumen keuangan negara lainnya, sehingga instrumen keuangan Indonesia cenderung dapat menjadi lebih menarik karena adanya kompensasi pada kenaikan risk premium.

“Dampak negatifnya ialah beban imbal hasil instrumen keuangan domestik akan meningkat dan menjadi beban bagi issuers. Selain itu, naiknya BI-rate dapat bertransmisi ke kenaikan suku bunga kredit sehingga meningkatkan borrowing cost yang berujung pada tertahannya potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tutur Josua.

Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan, kenaikan suku bunga acuan sebetulnya tidak serta merta bunga kredit naik sehingga mengganggu aktivitas konsumsi dan investasi di Indonesia. Namun, yang menjadi permasalahan menurutnya ialah kenaikan suku bunga membuat bunga depostio cepat naik, membuat masyarakat lebih memilih menabung uangnya ketimbang belanja.

“Karena kalau BI Rate naik belum tentu landing rate naik, tapi deposite ratenya akan meningkat. Kalau deposit rate meningkat orang lebih cenderung naruh dananya dari pada belanja misalnya,” kata David.

Berdasarkan indeks transaksi belanja (intrabel) BCA, pertumbuhan tingkat konsumsi secara nominal turun 3,95% secara tahunan atau year on year (yoy) sejak 25 Januari 2024. Tren penurunan belanja ini sudah terjadi mulai pertengahan 2021 dari angkanya saat itu tumbuh di level kisaran 30%.

Turunnya nilai konsumsi searah dengan level PDB nominal yang terus turun tingkat pertumbuhannya, dari sejak kuartal III-2022 tumbuh 17,09% menjadi hanya tumbuh 4,51% pada kuartal III-2023. PDB nominal menurut David lebih mencerminkan kondisi sesungguhnya dari aktivitas perekonomian.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Catat! Jadwal Terbaru Rapat Dewan Gubernur BI 2024


(haa/haa)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *