Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat pada perdagangan Kamis (18/4/2024), meski pasar masih cenderungwait and see memantau perkembangan sentimen pasar global hari ini.

IHSG ditutup menguat 0,5% ke posisi 7.166,81. IHSG berhasil konsisten bergerak di zona hijau, meski masih bertahan di level psikologis 7.100.

Nilai transaksi indeks pada akhir perdagangan hari ini mencapai sekitar Rp 13,8 triliun dengan melibatkan 17,6miliar lembar saham yang diperdagangkan sebanyak 1,3 juta.

Secara sektoral, sektor keuangan menjadi penopang terbesar IHSG di akhir perdagangan yakni mencapai 0,82%.

Selain itu, beberapa saham juga terpantau menjadi penopang IHSG. Berikut daftarnya.

Dua saham perbankan raksasa menjadi penopang IHSG di akhir perdagangan. Adapun kedua saham bank tersebut yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencapai 20,6 indeks poin dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 16,1 indeks poin.

IHSG menguat di tengah bangkitnya rupiah pada hari ini. Berdasarkan data dari Refinitiv pada pukul 15:00 WIB, rupiah menguat 0,28% ke posisi Rp 16.170/US$. Rupiah yang berhasil menguat pun akhirnya berdampak ke IHSG.

Investor masih memantau perkembangan sentimen pasar global hari ini, di mana ketegangan di Timur Tengah dan sikap bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) yang masih cenderung hawkish.

Sebelumnya, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan perlu lebih banyak waktu untuk memastikan pemangkasan suku bunga. Dalam diskusi panel di acara Washington Forum on the Canadian Economy, Washington, D.C., Selasa waktu AS (16/4/2024) ia mengatakan perekonomian AS belum melihat inflasi kembali sesuai target bank sentral yakni di kisaran 2%.

Senada dengan pernyataan para pejabat bank sentral baru-baru ini, Powell mengindikasikan tingkat kebijakan saat ini kemungkinan besar akan tetap berlaku sampai inflasi mendekati target 2%.

“Data terbaru jelas tidak memberikan kita kepercayaan yang lebih besar, dan malah menunjukkan bahwa kemungkinan akan memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan untuk mencapai kepercayaan tersebut,” katanya dalam forum bank sentral.

Menurut perangkat FedWatch peluang penurunan suku bunga The Fed baru akan terjadi September sebesar 25 basis poin menjadi 5%-5,25%. Peluang penurunan tersebut sebesar 46,5%.

Optimisme pasar mengenai penurunan suku bunga sudah bergeser cukup jauh dalam empat bulan pertama 2024.

Pada akhir 2023, pasar memiliki proyeksi penurunan suku bunga terjadi pada Maret 2024. Kemudian bergeser menjadi April dan terakhir Juni 2024.

Pergeseran ini karena data-data menunjukkan bahwa ekonomi Negeri Paman Sam masih kuat.

Di lain sisi, pada hari ini investor juga akan memantau rilis dataklaim pengangguran AS untuk pekan yang berakhir pada 13 April 2024. Trading Economics memperkirakan klaim awal pengangguran akan meningkat menjadi 215 ribu dari pekan sebelumnya 211 ribu.

Data ini akan menjadi perhatian investor yang mulai tidak yakin bahwa penurunan suku bunga The Fed akan segera dilakukan.

Tak hanya itu saja, ketegangan di Timur Tengah juga masih akan menjadi fokus investor pada hari ini. Ketegangan di Timur Tengah akan meningkatkan ketidakpastian global sehingga investor menahan diri atau memilih safe haven seperti dolar AS ketimbang di pasar berisiko.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


IHSG Tembus 7.000! BBRI, GOTO, & BREN Jadi Penopang Utama


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *