Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas mata uang Asia terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (29/3/2024), di tengah stabilnya dolar AS karena investor mempertimbangkan kapan bank sentral AS akan mulai menurunkan suku bunga setelah laporan pekerjaan yang meledak lagi.

Menurut data Refinitiv per pukul 14:40 WIB, dari sembilan mata uang Asia, terpantau hanya tiga yang berhasil melawan The Greenback (dolar AS), yakni rupee India, peso Filipina, dan dolar Taiwan.

Sementara untuk perdagangan mata uang rupiah Indonesia pada hari ini tidak dibuka karena sedang libur Cuti Bersama dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1445 H atau Lebaran 2024.

Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang Benua Kuning (Asia) pada perdagangan hari ini.

Dolar AS bergerak cenderung stabil pada hari ini. Per pukul 14:40 WIB, indeks dolar AS (DXY) hanya naik tipis 0,07% ke posisi 104,367.

Data pada Jumat lalu menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS melampaui ekspektasi pada Maret lalu dan upah meningkat secara stabil, menunjukkan perekonomian mengakhiri kuartal pertama dengan kuat.

Departemen Tenaga Kerja pada Jumat lalu melaporkan nonfarm payrolls (NFP) meningkat sebesar 303.000 pekerjaan pada Maret lalu dibandingkan dengan ekspektasi kenaikan sebesar 200.000, menurut para ekonom yang disurvei oleh Reuters.

Sementara untuk tingkat pengangguran pada Maret lalu berada di angka 3,8% dibandingkan dengan ekspektasi bahwa angka tersebut akan tetap stabil di angka 3,9%, sementara upah rata-rata yang diperoleh naik 0,3% setiap bulan, sejalan dengan perkiraan.

“Data ekonomi yang tangguh adalah pedang bermata dua bagi pasar, tapi sisi positifnya, pertumbuhan yang tangguh menunjukkan perekonomian yang jauh dari resesi, namun hal ini juga bisa berarti The Fed akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” ujar ahli strategi ANZ dalam sebuah catatan, dikutip dari Reuters.

Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang penurunan suku bunga sebesar 48% dari The Fed pada Juni mendatang, turun dari sekitar 60% pada pekan sebelumnya, dan Juli akan menjadi titik awal baru untuk pelonggaran yang ditunggu-tunggu.

Investor juga memperkirakan pemotongan sebesar 62 basis poin (bp) pada tahun ini, kurang dari proyeksi The Fed sebesar 75 bp.

Di lain sisi, fokus investor pekan ini adalah pada laporan indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) AS, yang diperkirakan menunjukkan inflasi inti melambat menjadi 3,7% pada Maret lalu, dari sebelumnya sebesar 3,8% pada Februari lalu.

“Jika data inflasi dalam dua bulan ke depan menunjukkan tren menurun, The Fed mungkin masih terbuka terhadap penurunan suku bunga pada bulan Juni. Tetapi jika tren disinflasi yang stagnan dan melambat pada Januari dan Februari terus berlanjut, maka penilaian ulang mungkin perlu dilakukan,” kata Vasu Menon, direktur pelaksana strategi investasi di OCBC Bank di Singapura, dilansir dari Reuters.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Dolar AS Akan Tetap Lebih Perkasa Dibanding Yuan, Ini Alasannya


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *